26 Juli 2009

Lomba Fotografi Nasional 2009
























Lebih dari 30 item budaya bangsa Indonesia telah diakui kepemilikannya oleh pihak lain (http://budaya-indonesia.org/iaci/Data_Klaim_Negara_Lain_Atas_Budaya_Indonesia). Apakah bangsa Indonesia akan diam begitu saja?

33 provinsi di Indonesia memiliki keragaman budayanya masing-masing. Sudah sepantasnya apabila kita bangga terhadap kebudayaan tersebut. Namun keberagaman dan kekayaan budaya yang kita banggakan ternyata justru menjadi petaka baru. Terlalu banyak klaim kepemilikan yang muncul.

Sudah saatnya hal tersebut dihentikan!

Lomba Foto CAPTURE peduli terhadap hal itu. Melalui tema “capitalize OUR CULTURE” mengajak masyarakat umum untuk mendokumentasikan budaya Indonesia dalam bentuk foto. Karya foto yang dimaksud bisa mengambil obyek kesenian daerah ataupun benda yang dapat dikategorikan sebagai budaya asli Indonesia.
Foto dipilih sebagai media untuk upaya pendokumentasian budaya-budaya yang menyebar di seluruh Indonesia. Foto! Pamerkan! Biarkan semua orang tahu kebudayaan kita. Mari berdoa dan beraksi, agar semakin banyak yang perduli terhadap kebudayaan asli Indonesia. Dan hilanglah klaim kebudayaan kita oleh pihak lain.
Inilah saatnya untuk “capitalize OUR CULTURE”. Berikan huruf kapital di hatimu untuk BUDAYA INDONESIA!! Pesan kami,

angkat budaya asli Indonesia, sebarkan kepada dunia luar, dan banggalah kepada INDONESIA!!


KETENTUAN LOMBA

Tema
Tema lomba adalah “capitalize OUR CULTURE”

Obyek foto
Obyek foto meliputi budaya tradisional asli Indonesia, dapat berbentuk kesenian ataupun benda-benda yang dapat dikategorikan budaya asli Indonesia

Peserta
Lomba foto terbuka untuk masyarakat umum di seluruh wilayah Indonesia
Setiap peserta dapat mengirimkan maksimal 5 (lima) karya. Apabila peserta mengirimkan lebih dari 5, panitia akan memilih 5 foto tanpa pemberitahuan kepada peserta
Biaya registrasi Rp. 20.000 (per peserta),- Ditransfer ke Panitia, Rekening BNI Cabang Ponorogo Nomor 0128554513, a.n. Naning Ika Jayanti

Ketentuan foto
Karya belum pernah dipublikasikan (media massa, pameran, dan kegiatan sejenis), dan juga belum pernah menang dalam lomba foto
Olah foto diperkenankan sebatas burning, dodging, cropping, contrast, hue, saturation, level, curve, dust removing, noise reduction dan tidak ada pengubahan data vital
Hak cipta karya foto merupakan milik fotografer atau pemotret. Panitia tidak berhak menggunakan foto-foto yang terpilih ataupun yang masuk tanpa seijin dari fotografer/pemotret yang bersangkutan kecuali untuk keperluan Pameran Foto sehubungan dengan program ini
Gugatan dari pihak ketiga (model, pemilik kawasan, dll) adalah sepenuhnya tanggung jawab peserta.

Pengiriman karya:
Batas akhir pengiriman 08 Agustus 2009 (cap pos)
Foto di cetak ukuran 10R Jumbo tanpa bingkai, tanpa alas, tanpa pencantuman unsur-unsur non fotografis. Dibelakang foto ditempelkan : Judul foto, keterangan foto (caption), beserta keterangan fotografer: Nama, alamat, nomor telepon dan email.
Hasil cetak foto dikirimkan beserta CD berisi foto dengan spesifikasi sebagai berikut: file tiff atau jpg kualitas 12, RGB, resolusi minimum 300 dpi, ukuran gambar 30 x 40 cm. di kemasan CD dituliskan nama dan alamat.
Karya dikirimkan kepada sekretariat panitia dalam amplop tertutup, disertai dengan
- CD asli foto
- fotokopi KTP/SIM/tanda pengenal lainnya
- tanda bukti pembayaran asli
Setelah pengiriman, peserta harus memberikan konfirmasi kepada panitia

Pengumuman dan Penyerahan Hadiah
Para pemenang dan juara favorit akan dikonfirmasi panitia melalui email dan telepon pada 15 Agustus 2009
Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
50 foto pilihan akan ditampilkan pada pameran foto tanggal 11-18 Agustus 2009 di House of Sampurna, Surabaya (dalam konfirmasi).
Penganugerahan pemenang akan dilaksanakan pada 18 Agustus 2009 dalam seminar nasional "Membingkai Budaya sebagai Isu Minoritas dalam Fotografi" di Gedung C FISIP, kampus B Universitas Airlangga.

Hadiah lomba
Juara 1 : Rp 5.000.000 & piagam
Juara 11 : Rp 3.000.000 & piagam
Juara III : Rp 1.000.000 & piagam
Juara harapan : Rp 500.000 & piagam (untuk tiga orang)
Para pemenang (Juara I, II, dan III) akan mendapatkan reimbursement transportasi dari tempat asal menuju Surabaya dan penginapan selama 1 malam untuk menghadiri acara penganugerahan.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi
Sekretariat CAPTURE:
Jalan Guntur No 8 RT/RW : 02/II Kel Peneleh Kecamatan Genteng
Surabaya 60274
CP : Adi (085258276341)
Mee (085655459905)



Dipersembahkan oleh:

FISIP Universitas Airlangga



----------------------------------------Didukung oleh--------------------------------



Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

25 Juli 2009

Tutup Raimuna Jatim 2009

Meriah!!
Kata yang tepat untuk menggambarkan suasana malam Brawijaya (sebutan untuk malam terakhir di Raimuna Jawa Timur 2009). Gurat tawa, senyum, dan teriakan segenap kakak-kakak peserta dan panitia raimuna menggenangi lapangan ponpes Jawaahirul Hukmah, Besuki, Tulungagung. Semua terbenam dalam iringan musik dan dentuman kembang api. Disaksikan oleh bukit JH, semangat pramuka malam itu begitu terasa klimaksnya. Aku dan teman-teman beriring-iringan senyum di kafe JH sambil bermain kartu remi. Tawaku malam itu adalah tawa paling keras selama seminggu bersama mereka. Kami se-GDV habis-habisan membantai nyamuk dalam permainan kartu tapuks nyamuks, permainan yang dikenalkan oleh Hwa Su (masa sih permainan congek seperti ini cuman ada di Korea?). Dalam satu lingkaran pemain, masing-masing membuka kartu yang dipegang secara berurutan sambil menyebut angka diawali dari kartu As, sampai King. Kalau kartu yang dilempar sesuai dengan yang disebut, maka semua pemain akan menapuk kartu. Pemain yang paling akhir menapuk will be the loser dan harus mengambil seluruh kartu yang sudah put off. Pemenang adalah pemain yang lebih dulu menghabiskan kartunya.

Satu kali tapukan, sebuncah teriakan. Dalam semenit, bisa lebih dari tiga tapuks. Sekali tapuks, perut mengeruts. Opat, GDV untuk Korean Village dari Perikanan Undip memegang rekor ketawa paling unik. Aku, memegang rekor ketawa paling absurd. Ta’in, no more excuses! Sedangkan Vini langganan sebagai the loser. Marlene dan Hanif sebagai the longest partner. Mereka selalu bertapuks satu sama lain. Mereka berdualah ujung tombak penentu kecanduan tapuks nyamuks karna memegang rekor terpanjang menjelang akhir permainan. Dan merekalah yang mengocak semua perut GDV-ers. Yang satu dari Jerman, satunya dari Salatiga. Sijine tindikan sijine kocomotoan. Sijine mengkilat sinije gelap (tiada maksud mencelamu Hanif, sumpah!). Selain adu menapuks, dua sejoli ini jor-joran medok. Lek wes kadung nesu, maka Hanif berSalatiganisasi dan Marlene sok berdiplomasi. Intinya: halah mboh, karepmu!


Kegaduhan di pojok kiri kafe JH malam itu disambut dengan tiba-tiba oleh serbuan kembang api saling silang-seling dari lapangan depan. DHWAR! DHWAR! WUIIIIIIII… JLEDHWAR!!!! Seketika itu pengunjung yang sedang menawar barang dan aksesoris di Raimuna Shop kepincut. Hanya GDV-ers yang acuh tak acuh. Namun sekali-kali tapi sering, aku menoleh memeriksa gumpalan cahaya melesat dan menyebar di angkasa JH. Sungguh indah. Saat aku menoleh lagi mulut mbak Meri sudah tertawa lebar, dan kening Vini mengerut karna harus memungut tumpukan kartu. Tiada yang akan memesona malam itu sebab tak terpikir akan mengabadikannya (wih, basaku wes koyok Samsul Bahri dan Siti Nurbuaya!). Intinya, malam itu adalah momen paling riang di Raimuna. Belum lagi disusul suara sang Raimuna Idol yang melantunkan tembang Mars Raimuna Jatim, cak Nicko. Suaranya terdengar riang. Sampai aku menulis entri ini pun tetap berngiang-ngiung (cuih!!)

Malam takkan larut karna pesta masih berlanjut sampai esok paginya. Tapi aku harus pamitan karna mataku makin kriting dan esok harus kembali ke Surabaya untuk rapat panitia lomba fotografi (Cici sms aku terus katanya printernya mbledak trus perutnya makin membuncit karna hamil muda…)

Upacara penutupan segera digelar. Nah, maunya sih aku update blog hari kemarin pas panitia ponpes JH sedang gladi bersih marching band untuk menyambut pak karwo yang ternyata denger-denger nggak bisa datang. Tapi karna udah dicabut kompiuternya, ya sutralah (batinku) besok aja kalu dh xmpe di Surabaya. Ku teringat tiba-tiba dengan Indonesian village ku yang telah seminggu menjadi kandang hidupku. Say goodbye to you, tenda yang membuat para peserta Raimuna menangis kegirangan, merenung, dan menyesal karna telah menghianati bangsa Indonesia…Egrang, karung, dan dakonku yang menjadi soulmate untuk memberi materi tentang traditionally culture. Dan sepatuku, moga kau tentram disana (anyway, I lost my shoe. Belum genap sebulan beli dari Plasa Surabaya)